HARI LANJUT USIA NASIONAL 2017 : MEMBANGUN KELUARGA PEDULI LANSIA


Jakarta (17/05)- Indonesia saat ini masuk ke dalam negara berstruktur penduduk tua (ageing population)  karena memiliki proporsi lanjut usia (Lansia)  (60 tahun keatas) yang besar (di atas 7%). Hal tersebut dapat ditunjukkan dari data Susenas tahun 2015, bahwa jumlah Lansia sebanyak 21,5 juta jiwa atau sekitar 8,43% dari seluruh penduduk Indonesia pada tahun 2015. Dari data penduduk tersebut menunjukkan populasi lansia cenderung meningkat setiap tahunnya, sehingga akan diikuti pula meningkatnya masalah lansia.

 Salah satu bentuk kepedulian dan menghargai peran serta kedudukan lansia dalam keluarga maupun masyarakat,  sejak tahun 1996 pemerintah Indonesia mencanangkan tanggal 29 Mei  sebagai Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN).  Pada tahun 2017 ini peringatan HLUN diselenggarakan melalui Gebyar Hari Lansia Nasional 2017 dengan tema “Hidup Bermartabat di Usia Senja, Lansia Sejahtera”

 Menyemarakan Gebyar Hari Lansia Nasional 2017 dan Rangkaian Hari Keluarga Nasional Tahun 2017 BKKBN melalui Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan menyelenggarakan Seminar Bina Keluarga Lansia  Bersama Membangun Keluarga Peduli Lansia dalam Meningkatkan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga dengan materi yang disampaikan terkait dengan Program Lansia Tangguh, Penyakit Demensia dan Alzheimer, dan Perawatan Jangka Panjang (Long Term Care/ LTC) di auditorium BKKBN, dengan pembicara Ir. Ambar Rahayu, MNS (BKKBN), Prof. DR. Dr. Siti Setiati, Sp. PD, KGer, M.Epid, DY. Suharya (Alzheimer Indonesia) dan Prof. Tri Budi W. Rahardjo (CAS UI)

Sekretaris Utama BKKBN Nofrijal dalam sambutannya menjelaskan, “BKKBN sedang menggalakkan Gerakan Revolusi Mental Berbasis Keluarga. Artinya, perubahan mental bangsa Indonesia dimulai dari keluarga. Lansia, sebagai golongan yang telah memiliki pengalaman hidup diharapkan bisa membagi pengalaman hidup untuk generasi muda. Lansia diharapkan menjadi salah satu motor penggerak Gerakan Revolusi Mental di keluarga masing-masing”. jelas Nofrijal.

Menurut data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2014, lansia masih aktif bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebesar 47,48%, namun di sisi lain diketahui semakin bertambah tua umurnya, maka lansia yang mengalami kemunduran fungsi organ akan semakin banyak. Angka kesakitan lansia tahun 2014 sebesar 25,05% berarti bahwa sekitar satu dari empat lansia pernah mengalami sakit dalam satu bulan terakhir. Hal tersebut menyebabkan lansia rawan terhadap serangan berbagai penyakit.

 Melalui seminar ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, keterampilan individu, keluarga, organisasi sosial, masyarakat dan dunia usaha sebagai cerminan peningkatan kesejahteraan lansia serta mempersiapkan pra lansia menjadi lansia yang sehat, aktif, produktif dan mandiri.

 Dalam upaya meningkatkan fungsi keluarga dalam memberdayakan lansia agar tetap sehat dan produktif serta menjadi “Lansia Tangguh”, BKKBN mengembangkan kegiatan Bina Keluarga Lansia (BKL) melalui program lansia Tangguh yang saat ini telah berkembang disebagian besar kecamatan. Pengembangan kelanjutusiaan tidak hanya berfokus pada Lansia tapi juga berbasis siklus hidup seperti yang telah dilakukan BKKBN saat ini dengan Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) melalui Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja melalui program Generasi Berencana (GenRe),  serta meningkatkan kesejahteraan keluarga  melalui kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS).

 Sekretaris Utama BKKBN Nofrijal menegaskan, “Lansia tidak hanya dipandang sebagai manusia yang menjadi beban keluarga atau beban pembangunan  sudah saatnya lansia menjadi pemimpin utama dalam  memberikan nasihat dan himbauan agar anak cucu mereka melakukan perubahan yang fundamental, yaitu perubahan mental,” tutup Nofrijal. 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan