LANSIA RENTAN TERHADAP KEKERASAN SOSIAL


KBRN, Serang: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PP dan PA) mendorong Pemerintah Daerah membuat program-program untuk perlindungan para lanjut usia terutama lansia perempuan karena mereka sangat rentan terhadap kekerasan fisik, psikis dan kekerasan sosial.

Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Situasi Darurat dan Kondisi Khusus, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PP & PA) Nyimas Aliah mengatakan,  pemerintah dan masyarakat harus bekerjasama dalam menyusun program kebijakan untuk perlindungan lanjut usia yang responsif gender. Sehingga masyarakat berperan untuk membuat komunitas-komunitas lansia yang bisa menjadikan lansia tersebut bahagia, produktif, mandiri dan terhindar dari kekerasan.

''Kasus kekerasan terhadap lansia memang kecil dibanding laporan kasus usia usia produktif yang sampai ribuan. Tapi munculnya 15 kasus kekerasan terhadap lansia itu bukan berarti nggak ada kasusnya, seperti hasil kajian dari yang terjadi di kota Malang, bentuk kekerasannya ada tamparan ada dorongan dan lainnya,'' kata Nyimas Aliah dalam sosialisasi perlindungan perempuan lanjut usia yang responsive gender bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan Provinsi Banten di Serang, Kamis 2/3/2017.

Menurutnya, jumlah lansia saat mencapai 8,7 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 20 juta orang lansia. dari jumlah tersebut ada sekitar 52 persen merupakan lanjut usia perempuan.

''Ancamannya lansia perempuan itu secara ekonomi, finansial mereka tidak siap dan lansia perempuan itu masih banyak yang buta huruf, kemudian ''single parent'' ya tidak punya suami dan juga tidak punya pekerjaan yang tidak sesuai potensinya,"kata Aliah.

Dengan demikian, kata dia, perlu adanya pemberdayaan dan perlindungan bagi para lansia tersebut seperti memberikan pekerjaan yang sesuai dengan potensi dan kemampuannya, misalnya membuat ayaman kerajinan dan mereka juga bisa menjualnya.

''Masih banyak lansia ini kerja serabutan, seperti kasus di Jogja ada lansia masih jadi kuli panggul umurnya sudah 80. Kasihan mereka ini, boleh dia bekerja tapi yang sesuai potensi kemampuannya," kata Aliah.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Provinsi Banten Sitti Ma'ani Nina mengatakan, sosialisasi terkait dengan perlindungan perempuan lanjut usia dengan mengundang perwakilan dinas dan lembaga terkait di delapan kabupaten/kota.

"Dari hasil respon yang diterima oleh kabupaten/kota ternyata sangat bagus, karena yang diundang di sini mulai dari unsur dinas terkait yang menangani permasalahn perempuan dengan lembaga atau organisasi perempuan," kata Nina.

Dari hasil sosialisasi tersebut, Nina mengatakan, pihaknya akan segera menyusun profil mengenai lansia yang ada di Banten untuk mempermudah dalam penyusunan program untuk pemberdayaan dan perlindungan lansia.

"Dari hasil paparan para narasumber tadi adalah kenyataan yang berdasarkan data dan ini harus segera ditindaklanjuti dan diaplikasikan. Itu yang menjadi permasalahan di daerah," kata Nina.

Pemprov Banten, tambah Nina akan fokus dalam melaksanakan program pencegahan kekerasan terhadap lansia. Kemudian bagaimana lansia itu menjadi produktif dan hidupnya tenang, karena banyak potensi yang ada di lansia yang belum termanfaatkan.

''Fokus kita saat ini membuat profil dari lansia yang ada di masing-masing daerah. Profil itu isinya data-data dari kabupaten kota, nanti ada dukungan-dukungan program dan dukungan anggaran dari masing-masing lembaga terkait," katanya. (Nasrd/AA)


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan